Announcement

Selamat datang di AOI Casket!
Sebuah tempat di mana anime dilihat dengan antusias, ditelaah dengan seksama, dan kemudian dinilai dengan serius.
Untuk berita-berita anime terbaru, kunjungi AOI Corner.

Blog ini masih terus dalam pengembangan untuk melengkapi koleksi animenya.

Jumat, 20 Januari 2017

MAHOU SHOUJO IKUSEI KEIKAKU

- Judul: 魔法少女育成計画 (Mahou Shoujo Ikusei Keikaku)
- Judul Alternatif: Magical Girl Raising Project;
- Tipe: TV (Oktober 2016)
- Genre: Super Powers; Action;
- Episode: 12
- Rating: Strong Violence
- Sinopsis:
Himekawa Koyuki tidak pernah menyangka bahwa game Mahou Shoujo Ikusei Keikaku (MahoIku) yang dia mainkan akan sungguh-sungguh memberinya kekuatan untuk berubah menjadi seorang Mahou Shoujo. Kini sebagai Snow White, dia pun akhirnya dapat mewujudkan impiannya selama ini untuk membantu orang-orang yang sedang menghadapi kesulitan. Namun, ternyata Snow White hanyalah satu dari enam belas Mahou Shoujo yang bertugas di Kota Nabuka, dan pada suatu hari, game MahoIku tiba-tiba saja memutuskan untuk mengurangi jumlah mereka hingga setengahnya. Mereka kemudian diseleksi melalui kompetisi mengumpulkan Magical Candies, dan Mahou Shoujo yang berada di peringkat paling bawah pada setiap pekan akan langsung kehilangan kekuatan dan sekaligus nyawanya.

Review:

- Cerita (Plot, Storyline, Storytelling, dll):
Apakah situasi tragis yang terjadi pada para Mahou Shoujo adalah hanya kompetisi biasa yang berkembang terlalu jauh, ataukah bagian dari rencana besar dari seseorang yang jahat? Yang mana pun yang menjadi tujuan anime ini sesungguhnya, dia tidak pernah mampu memberi penjelasan yang memuaskan tentang latar belakang mengapa para tokohnya harus saling membunuh. Sebab, bahkan meski jika situasi tersebut dimaksudkan sebagai hasil rekayasa yang disengaja, Fav dan game MahoIku memiliki kendali yang terlampau besar atas hidup para gadis itu, sehingga desakan yang mereka rasakan untuk saling membunuh secara otomatis menjadi tidak realistis. Bagaimana mungkin Fav bisa begitu saja menentukan bahwa mereka yang kehilangan hak sebagai Mahou Shoujo juga akan secara otomatis kehilangan nyawa? Apakah dia semacam Dewa yang kapan saja dapat membunuh siapa saja tanpa harus melakukan apa-apa? Dan bukankah persaingan para Mahou Shoujo kemudian mulai berubah serius cuma karena terdapat resiko kematian jika mereka kalah? Kecuali suatu saat nanti muncul alasan yang masuk akal mengapa Fav dan game MahoIku dapat dengan leluasa mencabut nyawa seseorang, cerita anime ini masih terkesan sangat dipaksakan, dan nuansa tragis yang hendak dia ciptakan pun pada akhirnya tidak pernah terasa nyata. Ditambah lagi, dengan jalan cerita yang melaju cepat, anime ini juga hampir tidak memberi kesempatan bagi emosi apapun untuk tumbuh dari kematian para tokohnya, maka yang tersisa dari ceritanya benar-benar hanyalah serangkaian adegan kekerasan dan pembunuhan brutal yang hampa.
Namun, terlepas dari latar belakang yang menyebabkan mereka saling membunuh, pertarungan di antara para Mahou Shoujo itu sendiri tampaknya telah dipersiapkan dengan matang. Meski anime ini bercerita tentang kekuatan-kekuatan super, mereka tidak bertarung dengan sekadar mengadu jurus siapa yang lebih kuat, tetapi justru melalui strategi-strategi pandai dan logis yang akan memanfaatkan secara efektif keahlian mereka masing-masing. Dengan demikian, siapapun bisa saja menang di setiap pertarungan, sehingga jalan cerita anime ini penuh kejutan yang sulit ditebak, dan karena cara mereka memenangkannya juga selalu dapat diterima akal, kejutan-kejutan itu pun akan terkesan alami.

- Audio Visual (Animasi, Dialog, Voice-Acting, dll):
Meski adegan pertarungan para tokohnya sebagian besar berdasar pada strategi, anime ini tetap menampilkan animasi yang cukup halus dan mendetil pada bagian ketika mereka beraksi atau menggunakan kekuatan sihir. Dia mungkin tidak akan diingat karena menyajikan banyak tontonan yang menakjubkan, tetapi secara objektif, kualitas audio visual di anime ini juga tidak akan pernah mengecewakan mereka yang menyaksikannya.

- Tokoh/Karakter:
Di satu sisi, anime ini berhasil memperlihatkan secara jelas perbedaan karakter dari setiap tokohnya, sehingga mereka benar-benar tampak sebagai sekumpulan individu yang unik dengan perspektif masing-masing. Hubungan yang muncul di antara mereka, apakah itu dalam bentuk pertemanan ataukah justru permusuhan, pun seakan terjalin secara alami. Namun, di sisi lain, ketika persaingan mereka mulai berkembang serius, anime ini kemudian membuat mereka saling membunuh dengan terlalu gampang. Gadis-gadis itu akan berubah dari orang-orang biasa menjadi pembunuh kejam berdarah dingin hanya dalam waktu sekejap, tanpa ada proses transisi pada emosi mereka dan tanpa menyisakan sedikit pun keraguan, tak ubahnya robot-robot yang bisa berganti-ganti dari mode aman ke mode membunuh cukup dengan satu tombol. Hal ini pulalah yang termasuk salah satu faktor yang akhirnya menjadikan cerita anime ini terkesan sangat dipaksakan dan tidak realistis, sebab meski dengan desakan kuat dari Fav untuk membunuh, tetap sulit bagi penonton untuk percaya bahwa para gadis itu dengan begitu cepat akan menganggap nyawa orang lain nyaris sama sekali tidak berharga, terlebih bila perubahan mendadak itu dimaksudkan terjadi pada beberapa orang sekaligus.

- Overall Score:
Barangkali cara paling baik untuk menggambarkan anime ini adalah dengan mengumpamakannya sebagai suatu jenis reality show. Melalui karakterisasi yang jelas dan pertarungan yang lebih banyak berdasar pada strategi, hiburan utamanya terletak dalam menyaksikan bagaimana satu tokoh akan mengalahkan tokoh yang lain dan menantikan siapa tokoh yang masih akan bertahan di episode berikutnya. Namun, anda mungkin tidak akan terlalu peduli latar belakang mengapa mereka sampai bertarung, sebab ketika anime ini bermaksud menyajikan sebuah kisah tragedi, dia ternyata tidak pernah mampu merealisasikan nuansa tragis tersebut. Skor 7,5 dari 10 (Emotionless tragedy)


DVD/Blu-ray:

Goods:
- Figure: Ripple
- Mouse Pad: Snow White / Ripple / Swim Swim

Sabtu, 14 Januari 2017

SHUUMATSU NO IZETTA

- Judul: 終末のイゼッタ (Shuumatsu no Izetta)
- Judul Alternatif: Izetta, the Last Witch;
- Tipe: TV (Oktober 2016)
- Genre: Action; Super Powers;
- Episode: 12
- Rating: Strong Violence and Strong Eroticism (Occasional Nudity)
- Sinopsis:
Setelah Kekaisaran Germania tiba-tiba saja mengobarkan perang di Eropa, sebagai Puteri dari Kerajaan Eylstadt yang jauh lebih kecil dan lemah, Fine tidak mampu berbuat apapun untuk melindungi wilayahnya ketika kini Germania bermaksud menyerang mereka. Namun, tanpa sengaja dia bertemu kembali dengan Izetta, gadis penyihir terakhir yang masih hidup, dan karena dirinya pernah diselamatkan oleh Fine di masa lalu, Izetta kemudian bersumpah menggunakan seluruh kekuatan sihirnya untuk balas membantu Fine dan menyelamatkan Eylstadt.

Review:

- Cerita (Plot, Storyline, Storytelling, dll):
Ceritanya mengalir dengan lancar dan dalam laju yang cepat namun konsisten, sehingga penonton benar-benar akan dapat hanyut bersama atmosfer yang menyesakkan dari perang yang menelan Eylstadt, nuansa urgensi yang terus mendesak para tokohnya untuk melakukan sesuatu meski kadang termasuk tindakan yang ekstrem, dan sensasi bahaya yang selalu membayangi para tokohnya setiap waktu. Jalan ceritanya juga ditulis dengan sangat baik, sehingga setiap tahapan dalam perkembangan cerita menjadi mudah dipahami dan nyaman untuk diikuti. Proses bagaimana Izetta berubah dari seorang gadis yang tidak dikenal sampai menjadi pahlawan legendaris Eylstadt terasa masuk akal, dan demikian pula halnya dengan reaksi Germania atau negara-negara lain atas keterlibatannya di dalam perang kemudian. Satu-satunya kelemahan yang tampak dari cerita anime ini adalah pada bagian flashback yang masih terkesan canggung dan tidak mampu membaur dengan baik bersama jalan cerita, seperti ketika anime ini menggambarkan latar belakang perang dalam bentuk film dokumenter atau ketika Izetta mengungkapkan saat dia dan Fine pertama bertemu dengan cara menjelaskannya kepada dirinya sendiri. Namun, jumlah flashback semacam ini tidak banyak, maka efeknya terhadap keseluruhan cerita pun bukan hal signifikan yang perlu dikhawatirkan.

- Audio Visual (Animasi, Dialog, Voice-Acting, dll):
Baik animasi 2D untuk para tokohnya maupun animasi CG pada persenjataan atau kendaraan-kendaraan perangnya disajikan dengan baik, dan meski tidak sempurna, penggabungan keduanya pun cukup memuaskan. Anime ini juga menunjukkan kemampuan sinematografi yang luar biasa, dengan sudut gambar yang fleksibel untuk menjaga agar setiap adegan senantiasa menyampaikan sebuah cerita dan bukan sekadar memperlihatkan serangkaian kejadian. Sementara itu, pada bagian audio, anime ini menggunakan musik latar secara efektif, tidak hanya untuk memperjelas emosi di dalam masing-masing adegan, tetapi juga untuk memperhalus transisi di antaranya supaya selalu terkesan sebagai satu cerita yang berkesinambungan. .... Hanya saja, mungkin anime ini kemudian agak berlebihan dalam mengandalkan musik latarnya. Di beberapa adegan, dia seolah memaksa untuk memasukkan musik latar meski sebenarnya tidak dibutuhkan, sehingga akhirnya musik tersebut justru terdengar bersaing dengan sound effects atau dialog para tokohnya. Sebenarnya bukan masalah yang terlalu besar, namun bagaimanapun juga, hal ini tetap berpotensi mengganggu pada momen-momen yang semestinya menegangkan.

- Tokoh/Karakter:
Mengapa seorang gadis polos seperti Izetta sampai mengingkari janji kepada nenek yang telah membesarkannya, melanggar larangan sebagai seorang penyihir, dan bahkan membahayakan nyawanya sendiri di dalam perang? Dia membutuhkan alasan yang benar-benar kuat, dan syukurlah, penggambaran hubungannya dengan Fine, yang sederhana namun sangat jelas, mampu menyediakan alasan tersebut. Setelah pernah diselamatkan oleh Fine baik secara fisik maupun mental, siapapun akan langsung mengerti mengapa Izetta kemudian berani melakukan semua yang dia lakukan. Pada saat yang sama, meski para tokoh lain sekilas terlihat seolah tidak dikembangkan cukup dalam, mempertimbangkan bahwa mereka adalah orang-orang yang sedang berperang, profil mereka yang terbatas mungkin justru merupakan pilihan yang tepat. Hal ini membantu melukiskan situasi mereka yang selalu terdesak dan tergesa-gesa -- bahwa kondisi mereka terlalu sulit dan waktu mereka terlalu sempit untuk sempat menampilkan diri mereka yang sesungguhnya. Lagi pula, dengan membiarkan tokoh-tokoh yang lain tetap kabur dalam wilayah periferal, anime ini juga berhasil menjaga agar ceritanya senantiasa fokus berkisar hanya pada kisah Izetta dan Fine.

- Overall Score:
Meski sebagian orang mungkin akan menilainya cuma berusaha memberi warna mistik pada salah satu titik monumental dalam sejarah, sesungguhnya anime ini hanya ingin bercerita tentang dua orang gadis yang berjuang melawan kencangnya angin peperangan. Bukan tentang kaum penyihir atau pun Kerajaan Eylstadt, melainkan tentang Izetta dan Fine dan hal-hal yang mereka pertaruhkan. Dan anime ini mampu menyampaikan kisah tersebut dengan sangat baik, melalui storytelling dan karakterisasi yang benar-benar menggambarkan mereka sebagai dua orang gadis di dalam suatu perang yang sedang berkecamuk. Memang sesekali masih ada gangguan pada bagian audionya, tetapi secara keseluruhan anime ini merupakan sebuah drama yang memuaskan dengan aksi-aksi yang seru. Skor 9 dari 10 (Recommended!)


DVD/Blu-ray:

Goods:
- Nendoroid: Izetta
- CD Music: Soundtrack