Announcement

Selamat datang di AOI Casket!
Sebuah tempat di mana anime dilihat dengan antusias, ditelaah dengan seksama, dan kemudian dinilai dengan serius.

Jumat, 10 November 2017

YOUKOSO JITSURYOKU SHIJOU SHUGI NO KYOUSHITSU E

- Judul: ようこそ実力至上主義の教室へ (Youkoso Jitsuryoku Shijou Shugi no Kyoushitsu e)
- Judul Alternatif: YouJitsu; Classroom of the Elite;
- Tipe: TV (Juli 2017)
- Genre: Romance(?); Mystery(?);
- Episode: 12
- Rating: Mild Violence and Strong Eroticism (Occasional Nudity)
- Sinopsis:
Para murid yang bersekolah di Tokyo-to Koudo Ikusei Koutou Gakkou dijamin akan memperoleh pekerjaan atau dapat melanjutkan ke tingkat berikutnya saat mereka lulus nanti. Bukan hanya itu, mereka juga akan diberi seratus ribu poin setiap bulan yang kemudian dapat digunakan untuk membeli apapun. Namun, rupanya jumlah poin tersebut bisa berkurang sesuai dengan perilaku dan prestasi para murid di setiap kelas, maka Ayanokouji Kiyotaka dan teman-teman sekelasnya pun memulai perjuangan panjang untuk menjaga agar selalu tersisa sedikit poin bagi kelas mereka.

Review:

- Cerita (Plot, Storyline, Storytelling, dll):
Bagaimana seandainya uang jajan para murid ditetapkan berdasarkan prestasi mereka di sekolah? .... Pertanyaan yang mungkin cukup menarik, tetapi pada akhirnya, dia tidak membahas sesuatu yang penting, bukan? Setidaknya, dia tidak cukup penting untuk dipikirkan secara serius. Sebab, bagaimana pun juga, uang jajan tetap hanyalah uang jajan. Para murid tersebut memang tidak bisa mendapatkan semua yang mereka inginkan, namun itu bukan berarti mereka tidak akan mampu hidup tanpanya. Maka ketika dia bersikeras menunjukkan situasi yang ketat layaknya sebuah penjara, bahwa pihak sekolah yang menerapkan S-System seolah begitu kejam dan para murid seakan sangat menderita karenanya, cerita anime ini pun segera terasa terlalu dibesar-besarkan. Dia hanya ingin berusaha terlihat lebih serius, meski sebenarnya dia tidak lebih daripada kisah tentang hubungan antara Ayanokouji dengan para gadis di sekolahnya. Ya, sistem sekolah yang menjadi setting cerita tampaknya cuma dalih agar Ayanokouji bisa berinteraksi dengan mereka, sehingga tidak mengherankan bahwa anime ini sengaja membiarkan sistem tersebut tetap samar agar dia dapat mengubahnya kemudian walaupun harus menghasilkan aturan-aturan aneh. Pada bagian cerita Horikita, misalnya, coba bayangkan betapa sulitnya seseorang memperkenalkan diri jika terdapat aturan bahwa sekolah akan mengganti nama kelas setiap bulan. "Kamu dari kelas mana?" "Bulan lalu saya kelas 1-D. Sekarang saya kelas 1-C. Mudah-mudahan, bulan depan saya kelas 1-B atau 1-A". Peraturan ini seolah dibuat hanya supaya Horikita punya tujuan untuk dikejar, dan selanjutnya agar Ayanokouji dapat membantunya mengejar tujuan tersebut. Lalu, bagaimana dengan kisah tentang hubungan Ayanokouji dengan para gadis itu sendiri? Supaya penjelasannya tidak menjadi terlalu panjang, cukup disebutkan bahwa dia laksana sebuah game romance adventure, di mana para gadis tidak bisa menghindar dari melibatkan Ayanokouji ke dalam masalah mereka dan Ayanokouji tidak punya pilihan selain memecahkan masalah tersebut untuk mereka. Sesekali anime ini mungkin akan menyertakan kejutan-kejutan yang membuatnya terkesan seperti sebuah misteri yang pandai, namun jika dilihat dari sudut pandang yang luas, misteri-misteri itu juga terasa dipaksakan terjadi hanya agar Ayanokouji kemudian bisa menjadi pahlawan.

- Audio Visual (Animasi, Dialog, Voice-Acting, dll):
Audio di anime ini cukup bagus, terutama dalam menjadikan ceritanya terkesan misterius. Terlepas dari fakta bahwa anime ini ternyata tidak se-misterius seperti yang dia kesankan tersebut, mempertimbangkan hasil akhir yang hendak dia capai, voice-acting dan musik latarnya harus tetap dianggap telah berhasil menciptakan nuansa misteri itu sendiri.

- Tokoh/Karakter:
Yang pasti, setiap tokoh penting di anime ini dimaksudkan untuk memiliki suatu rahasia. Namun, dia ternyata tidak bisa mengelola rahasia-rahasia tersebut dengan baik, sehingga karakter mereka akhirnya tampak tidak konsisten dan bahkan cukup membingungkan. Horikita mengaku tidak peduli dengan siapapun selain dirinya sendiri, tetapi pada kenyataannya dia tidak pernah tinggal diam untuk membantu teman-temannya yang sedang kesulitan. Di satu saat Ayanokouji bersikap seperti seorang pragmatis yang lebih memilih untuk menghindar sejauh mungkin dari masalah yang tidak perlu, tetapi di saat berikutnya dia justru akan mengambil inisiatif dan dengan heroik langsung melibatkan diri ke dalam masalah orang lain. Jika anime ini hendak mengatakan bahwa semua inkonsistensi ini disebabkan oleh rahasia mereka tadi, kesalahannya kemudian terletak pada ketidakmampuan untuk menunjukkan secara jelas hubungan sebab-akibat di antara keduanya. Dia seolah tidak tahu bagaimana sebaiknya mengungkap rahasia itu, maka yang dia lakukan hanyalah menjanjikan bahwa memang terdapat suatu rahasia -- entah relevan atau tidak -- lalu segera menyembunyikannya lagi jauh-jauh. Mungkin, suatu saat nanti ketika semuanya sudah terungkap, lubang-lubang pada karakter para tokohnya akan terisi dan mereka pun akan menjadi lengkap, namun sebelum saat itu tiba, pada serial ini rahasia mereka terasa cuma seperti hiasan di permukaan agar anime ini kemudian, sekali lagi, terlihat lebih serius dari yang sesungguhnya.

- Overall Score:
Anime ini tidak seperti yang terlihat di permukaan, tetapi sayangnya, bukan dalam makna yang positif. Meski dia berusaha menampilkan setting yang menegangkan dan tokoh-tokoh yang penuh rahasia, sebenarnya anime ini tidak pernah lebih daripada sebuah cerita tentang hubungan antara seorang pemuda dan beberapa orang gadis. Berkat audio visual yang mendukung, anda tetap bisa membiarkan diri anda larut di dalam suasana misterius yang dia ciptakan, namun sebaiknya jangan berharap menemukan misteri sejati atau apapun yang pantas untuk disaksikan secara serius. Skor 7 dari 10 (Pretentious)


DVD/Blu-ray:

Goods:
- Figure: Suzune / Honami
- T-Shirt Kushida Black: S / M / L / XL
- CD Music: Soundtrack / OP Theme / ED Theme

2 komentar:

  1. 1. Untuk yang bagian plot "..cerita anime ini pun segera terasa terlalu dibesar-besarkan", jika meninjau dari anime nya pendapatmu mungkin tidak salah, karena yang dimaksud dibesar-besarkan itu adalah impresi untuk sekolah SMA selama 3 tahun, sedangkan di sepanjang anime nya bahkan blm mewakili 1 semester, jadi kupikir kau terlalu cepat jika mengatakan itu dibesar-besarkan.
    2. Yang bagian"...sistem sekolah sebagai dalih agar Ayanokoji bisa berinteraksi dengan para gadis.." Oke pendapatmu terdengar seperti komentar-komentar untuk tipikal anime harem (termasuk Oergairu). Tidak salah juga yang kau sampaikan, tapi yang namanya anime, manga, LN tidak akan jalan ceritanya jika tokoh utama tidak berinteraksi dengan tokoh lain, sedangkan tokoh lain tentu saja kalau tidak laki-laki ya pasti perempuan. Menurutku pribadi sepanjang animenya (12 episode) karakter laki-laki & perempuan di anime ini cukup berimbang jumlahnya & peranannya, setidaknya lebih baik dari anime-anime lain. Untuk sistem sekolah itu sendiri kupikir sudah digambarkan dengan tegas melalui seberapa ketat peraturan yang ada di sekolah itu, dimana jika mendapat nilai merah saat ujian terancam drop out, adanya ujian bertahan hidup di pulau, dll. Jujur saja pada poin ini komentarmu terlalu sempit, mungkin karena kau kebanyakan nonton anime harem, sehingga sedikit-sedikit langsung diarahkan ke situ. Jika ingin lebih bisa mempertanggungjawabkan review mu ini, coba baca versi LN nya, siapa tau ada pencerahan.
    3. Untuk yang bagian "...karakter tampak tidak konsisten & membingunkan..." itu sebenarnya lebih menggambarkan dinamika individu, dimana monolog seseorang kadang berbeda dari kenyataannya (coba saja baca review Kaorinusantara tentang anime ini).
    4. Review mu mungkin tidak sepenuhnya salah, tapi poin 1 sampai 4 adalah komentarku tentang postinganmu ini. Masukan dariku tolong tingkatkan persepsi & penalaranmu dalam membuat ulasan anime, setidaknya mungkin bisa meningkatkan orang yang berkunjung ke blogmu ini. Terima kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih atas kritikannya :)
      Di bawah ini adalah penjelasan saya. Tidak bermaksud mendebat, tapi mungkin bisa membantu meluruskan beberapa hal.

      1. Saya sebut ceritanya terlalu dibesar-besarkan karena anime ini selalu ingin menggambarkan bahwa para tokohnya hidup dalam kesulitan, padahal sebenarnya tidak demikian. Murid-murid yang tidak punya cukup poin memang tidak bisa mendapatkan barang-barang kesukaan mereka, tetapi anime ini sendiri sudah menunjukkan kalau mereka masih bisa mendapatkan barang-barang dasar yang mereka butuhkan. Itu berarti, kecuali mereka akan segera tewas jika tidak menggunakan barang-barang sekunder dan tersier, murid-murid di anime ini seharusnya akan baik-baik saja meski tidak punya cukup poin sekalipun.
      2. Jumlah kedua gender memang kurang lebih berimbang, tetapi menurut saya para tokoh pria tidak punya fungsi yang esensial. Mereka cuma menjadi tokoh figuran atau orang jahat yang mesti dikalahkan. Tokoh-tokoh yang punya peran penting dan benar-benar berinteraksi dengan Kiyotaka adalah hanya para gadis, dan karena saya sudah menganggap cerita dan setting yang menggabungkan mereka terlalu dibesar-besarkan, hanya semacam dalih yang dibuat-buat, saya simpulkan kalau tujuan anime ini yang sebenarnya ialah sekadar mengumpulkan Kiyotaka dengan para gadis tersebut.
      3. Saya sebut para tokohnya membingungkan karena sikap mereka yang tampak selalu berubah-ubah. Horikita, misalnya, di satu saat mengaku hanya peduli pada dirinya sendiri, tetapi ketika ada temannya yang kesulitan, dia tidak bisa untuk tidak segera membantu mereka. Mungkin pada light novel-nya terdapat alasan atas inkonsistensi sikap mereka, tetapi saya tidak melihat alasan tersebut di anime ini. Dan sebagaimana yang saya nyatakan pada Tab "Seputar Review", objek review ini adalah khusus hanya anime ini, bukan light novel yang mendasarinya.
      4. Apakah ada yang salah dengan persepsi dan penalaran saya? Saya tidak tahu. Yang saya tahu dengan pasti adalah hanya bahwa review ini ditulis tidak secara asal-asalan. Semua aspek telah dipertimbangkan dengan saksama, termasuk logika di balik setiap opini dan kemungkinan bias yang dapat mengaburkannya, maka review ini benar-benar merupakan kesimpulan saya yang paling murni.

      Hapus